Jumat, 12 November 2010

KITAB LAGALIGO BUKAN KARYA SASTRA ORANG BUGIS

by Ashari Thamrin on Tuesday, June 8, 2010 at 9:50am
Oleh: Ashari Thamrin M, SS

Kritik pedas yang dilontarkan Penulis buku “Gurita Cikeas” George Aditjondro dalam makalahnya berjudul: Terlalu Bugis Sentris-Kurang Perancis”, atas klaim orang Bugis terhadap Kitab Lagaligo, seperti termuat dalam buku “The Bugis”, karya Christian Pelras, patut dipertimbangkan oleh orang-orang Luwu (Bija To Luwu). Selama ini, Orang Luwu selalu berada dalam bayang-bayang suku bugis. Sebagian besar Bija To Luwu telah latah mengakui bahwa mereka adalah suku bugis, padahal dalam kesehariannya, mereka menggunakan bahasa TAE sebagai ciri khas kesukuan orang Luwu. Berikut 2 (dua) kutipan dari makalah tersebut yang patut direnungkan:
1. Dan pengamatan di Tana Luwu’ dan wawancara dengan sejumlah informan kunci, cukup jelaslah bagi saya bahwa orang Luwu’ atau To Luwu’, penduduk asli ketiga kabupaten ex-kerajaan Luwu’ (Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur) merupakan kelompok etno-linguistik (suku) sendiri, dan bukan sub-etnis Bugis. Bahasanya, bahasa Tae’, lebih dekat ke bahasa Toraja dari pada ke bahasa Bugis.
2. Klaim Bugis atas Luwu’, yang dicoba dilegitimasi oleh Pelras dengan mengklaim La Galigo sebagai karya sastra Bugis, sama absurdnya seandainya orang Jawa mengklaim Mahabharata dan Ramayana sebagai karya sastra Jawa. Atau sama absurdnya, seperti kalau orang Jerman mengklaim Homeros sebagai karya sastra Jerman kuno, dan tidak mengakuinya sebagai karya Yunani kuno. Makanya lebih tepat kalau dikatakan bahwa La Galigo menjadi landasan filosofis karya-karya sastra Bugis dan suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat.

Ternyata, George Aditjondro bukan orang pertama yang berpendapat demikian. Hampir seperempat abad silam, Andi Zainal Abidin, guru besar Fakultas Hukum Unhas, telah mengungkap hal tersebut dalam beberapa tulisannya, yang kembali dikutip George Aditjondro dalam makalah tersebut di atas.

BANYAK BUKTI
Saya sendiri justru penasaran dengan Kitab Lagaligo yang diklaim sebagai Karya Sastra Bugis. Saya mengembangkan sebuah pertanyaan, bagaimana mungkin Kitab Lagaligo itu dikatakan karya sastra Bugis, sementara pemerannya adalah Raja-raja Luwu, penutur rumpun bahasa TAE’? Saya pun berinisiatif mencari tahu melalui search google.
Jawaban pertama saya temukan dari pernyataan Muh. Salim -salah seorang penerjemah Sureq Lagaligo- bahwa Kitab tersebut berbahasa Proto Bugis (Bugis Kuno) bercampur bahasa Sansekerta. Dan menurutnya, hanya tersisa kurang lebih 100 orang saja di Sulawesi Selatan yang mengerti bahasa tersebut. Makanya, Muh. Salim butuh 5 tahun 3 bulan untuk menyelesaikan terjemahan yang seluruhnya berjumlah 300.000 baris yang terbagi dalam 12 Bab itu.
Dari pernyataan Salim ini, kita dapat mengembangkan logika: kalau Kitab tersebut berbahasa Bugis, tentu dia hanya butuh waktu sebulan untuk menyelesaikan terjemahannya. Tapi ternyata tidak. Salim yang berdarah bugis dan lancar berbahasa bugis ternyata butuh waktu lama dan kesulitan menerjemahkan Kitab tersebut.
Tapi, Saya tetap menggaris bawahi phrasa “Proto Bugis+Sansekerta” yang dikatakan oleh Muh. Salim. Saya coba telusuri melalui Genesis bahasa Austronesia. Masya Allah….., saya baru tahu kalau bahasa yang merupakan turunan terakhir di Sulawesi Selatan adalah bahasa Mandar dan Bugis. Kedua bahasa ini diturunkan dari bahasa Wolio (Buton). Bahasa Wolio sendiri adalah turunan dari bahasa Makassar. Dan bahasa Makassar adalah turunan campur (Indo) dari bahasa TAE’ (Luwu) dan Bahasa BARE’E (Sulawesi tengah). Sungguh mengejutkan!
Lalu apa alasan Muh. Salim menutupinya dengan “Proto Bugis” dan hanya tersisa 100 orang saja yang mengerti”? Hanya Allah dan dia saja yang tahu.
Saya belum puas sampai disitu. Saya berpikir bahwa untuk benar-benar memastikan Kitab Lagaligo itu bukan berbahasa Bugis, tapi berbahasa lain dan dari tempat asli di mana para pemeran dan episodenya berlangsung, yang harus saya lakukan adalah melihat langsung Kitab tersebut ke Perpustakaan Leiden Belanda. Jelas, suatu hal yang belum mampu saya lakukan, mengingat keterbatasan saya dalam hal finansial dan kapasitas keilmuan.
Tapi entah kenapa, seperti ada suara yang berbisik diteliga saya untuk mencari keterangan dari para pemerhati Lagaligo di Luar Negeri. Dalam benak saya, mereka (orang luar itu) tentu pernah menulis hal-hal terkait kitab tersebut, dan mereka tentu akan lebih objektif, semata hanya untuk pengembangan keilmuan, dan tidak ada tendensi dan pengaruh subjektifitas kesukuan. Toh mereka bukan orang Sulsel.
Dan benar saja, saya menemukan sebuah keterangan tambahan dari V. SIRK melalui tulisannya berjudul : On Old Buginese and Basa Bissu hal 235. Berikut kutipannya:
1. To determine the origin of the lexical layers formed basically by the words that Matthes marks with O.B. and with B.B. is a complicated problem. Here I am able to give some suggestion only regarding the first, "Old Buginese" layer. This layer has apparently been brought about by the "Lagaligo" tradition. As regards the original homeland of this tradition, there are various consideratios putting forward Luwu' region. However, such a hypothesis cannot as yet be founded linguistically : much more data about Buginese dialects and neighbouring languages are needed to prove it. Nevertheless, already at present it seems that there are isoglosses linking the "Old Buginese" layer with the languages of Central and Eastern Sulawesi. The following parallels are interesting : O.B. eyo 'day' — eo id. in a number of languages of Central Sulawesi (a specific development of the etymological rool * (q)ajaw); O.B. rananrir) 'wind' — ranindi 'cold' in Toraja languages ; O.B. tapide 'shield' — Bare'e (Pu'umboto dialect) tampide, Banggai tompide id. ; O.B. kunawe 'buffalo' — Bare'e (priests' language)
(Artinya: Untuk menentukan keaslian dari lexical yang melapisi pembentuk dasar kata-kata yang ditandai Matthes dengan O.B. dan B.B., adalah sebuah masalah yang complete. Disini, saya dapat memberi saran hanya mengenai “Bahasa Bugis Kuno” dulu. Adapun mengenai tanah air asli dari tradisi ini, ada begitu banyak pertimbangan di sepanjang wilayah Luwu. Namun demikian, sebagaimana halnya hipotesis-hipotesis yang belum dapat ditemukan secara linguistic: terlalu banyak data tentang dialek-dialek bahasa Bugis dan bahasa tetangga(nya) yang harus disediakan. Kendati demikian, kelihatannya telah ada batas pemisah yang jelas pada lapisan “Bahasa Bugis Kuno” dengan bahasa-bahasa di Sulawesi tengah dan Sulawesi bagian Timur).
2. Besides, it should not be forgotten that the origin of the linguistic standard of Buginese prose antedates Matthes's scarce notes about Buginese dialects
(Artinya: Disamping itu, jangan lupa bahwa standar linguistic asli dari prosa Bugis, lebih dulu ada daripada catatan langka Matthes tentang Dialek-dialek Bugis).

MENGAKHIRI KELATAHAN
Kutipan V. Sirk di atas cukup menggambarkan kepada kita bahwa orang luar pun sudah tahu di mana tempat asli dari Kitab Lagaligo itu dilahirkan, berikut bahasa yang digunakan dalam Kitab Lagaligo tersebut. Jelas bukan bahasa Bugis, tapi bahasa Luwu alias bahasa TAE’ yang belum diketahui dialek apa. Jadi, tunggu apalagi? Saya sendiri tetap berkomitmen untuk mengumpulkan data demi data untuk pembuktian tersebut. Dan insya Allah komitmen saya tidak akan padam, walaupun ada diantara kita sekalian (Bija To Luwu) bertanya-tanya: Apa perlunya?
Membuat Identitas sebagai Suku tersendiri akan menguntungkan orang Luwu ke depan, khususnya dalam bidang Pariwisata. Saat ini dunia sedang melek mata akan keagungan Sureq Lagaligo yang lebih panjang dari pada Kisah Mahabharata dan Ramayana dari India. Mereka sedang mencari-cari dari manakah asal muasal Kitab yang hebat itu. Tidak menutup kemungkinan, akan ada sutradara Hollywood yang tertarik menggarap kisah Sawerigading yang memiliki karakter yang lebih unik daripada Hercules, atau tokoh-tokoh Mythos lainnya di dunia. Jelas, itu hanya sebuah tips dan bukan tujuan utama jika kita memiliki identitas tersendiri.
Tapi, jika Luwu tetap mendompleng dalam bayangan identitas suku bugis, maka justru orang-orang Bugislah -yang secara geografis berada di wilayah BOSOWA- yang akan mengeruk keuntungan tersebut. Terbukti, pernah dilakukan ekspedisi arkeologi OXYS, di Sulsel untuk menelusuri perjalanan Kitab Lagaligo. Sayangnya, mereka tidak menemukan apa-apa, karena diarahkan ke Kecamatan Cenrana, Kab. Bone, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Terakhir, tak lupa peran penting 4 pemerintahan di Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur. 2 (dua) hal mendesak yang sebaiknya segera dilakukan untuk penyelamatan identitas kesukuan ini, yaitu:
1. Mengirim putra dan putri Luwu ke perpustakaan Leiden Belanda yang punya kapasitas keilmuan untuk melakukan translasi, transliterasi dan dokumentasi Sureq Lagaligo.
2. Mengembalikan Luwu dalam kondisi originality (keasliannya), minimal dalam berbahasa.
Sungguh pilu hati ini melihat begitu latah dan bangganya orang Luwu di Kota Palopo disebut sebagai orang bugis, sehingga slogan berbahasa bugis pun tertera di mana-mana. Wanua mappatuwo naewai alena, Toddopuli temmalara (ini sejak tahun 1946?), SaodenraE, SaokataE, dan lain lain. Nawawi S. Kilat dari Kec. Wotu Kab. Luwu Timur, bahkan sudah lebih dulu teriak agar nama Sungai Cerekang dikembalikan ke nama semula sesuai bahasa setempat menjadi Sungai Cerrea.
Semoga kelatahan ini segera diakhiri, dan kita menuju ke kondisi keaslian identitas kita sebagai Bija To Luwu. Selebihnya……, W Allahu a’lam bisshawab. Wa Shadaq Allahu l’adzim.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar